Jumat, 29 Juni 2012

Memoar Seorang Diplomat Senior Indonesia


Apa jadinya seorang aktivis, yang terbiasa mengkritisi kebijakan pemerintah, menjadi seorang diplomat yang notabene harus membawa nama negara di panggung internasional?

Pergolakan batin tersebut diungkapkan oleh diplomat senior Indonesia, Nazaruddin E Nasution, dalam memoarnya "Dari Aktivis Menjadi Diplomat" yang diluncurkan pertengahan Mei lalu.

"Baik buruk Indonesia, adalah negara saya," ungkap lelaki yang akrab disapa dengan panggilan Bung Nazar itu.

Dalam memoar setebal 371 halaman itu, Nazar (70) menceritakan kisah hidupnya dalam empat bagian yakni kisah masa kecilnya, kehidupan sebagai aktivis, kiprahnya sebagai diplomat dan purnatugas.

Sebagai aktivis, kiprah putra Muhammad Yunan Nasution, tak perlu diragukan lagi. Kiprahnya itu diawali dari organisasi di lingkungan rumah yakni Persatuan Pemuda Kotabaru Grogol, organisasi di sekolah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan sederet organisasi lainnya. Di HMI, dia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan Ketua I PB HMI.

Ada cerita menarik yang diungkap oleh Nazar yakni ketika Kongres X HMI yang berlangsung di Palembang. Waktu itu banyak pihak yang mendorongnya untuk menjadi kandidat ketua umum, mulai dari Nurcholis Madjid, Mar`ie Muhammad, Eki Syachruddin, Jusuf Kalla, Zakaria Siregar dan lainnya.

Namun, semua permintaan seniornya tersebut ditampiknya dengan halus. Alasannya sederhana yakni ketika itu sudah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan ingin berprofesi menjadi seorang pengacara.

Nazar kemudian merekomendasikan nama Akbar Tanjung, dan dengan tangan dinginnya pula, dia berhasil meyakinkan Akbar untuk menjadi Ketua Umum HMI. Tak heran, belakangan Akbar Tanjung menyebut Nazar sebagai mentornya.

Nazar pula lah yang menjadi salah seorang perumus Tiga Tuntutan Rakyat atau Tritura (1966) yang digaungkan oleh mahasiswa pada pemerintahan Soekarno.



Beralih ke Diplomat

Aktivitas Nazar yang dekat dengan panggung politik nasional di Tanah Air, tak membuatnya berhasrat untuk terjun ke dunia politik. Karir yang dirintisnya sebagai pengacara pun, dipandangnya tak sesuai dengan hati nurani.

Untuk menjadi pengacara ternama, kata Nazar, dalam bukunya sulit untuk untuk tidak "bermain" dalam lingkaran hakim-polisi-jaksa-pengacara.

Nazar juga berkali-kali harus menghadapi "godaan" seperti ketika Anton Haliman mengutus seseorang untuk menyuapnya atas kasus Simprug. Nurani Nazar merasa terhina, dan serta merta mengusir utusan itu keluar dari rumahnya.

Awal karirnya sebagai diplomat dimulai pada Desember 1972 saat diterima di Kementerian Luar Negeri.

"Profesi diplomat lebih cocok dengan watak saya. Saya merasa "exciting" ketimbang menjadi politisi ataupun pengacara. Sebagai politisi, tak bisa dielakkan, suatu saat akan dihadapkan pada pertarungan politik yang kotor."

Sebagai diplomat, Nazar bertugas di berbagai pos :Bangkok, New York, Ottawa, Washington, Phnom Penh dan akhirnya mencapai karir sebagai Dubes RI untuk Kamboja.

Dalam memoarnya juga, Nazar menceritakan bagaimana sikap seorang diplomat ketika menjelaskan persoalan yang ada Tanah Air di panggung internasional.

Apalagi, pada saat itu sedang hangat-hangatnya persoalan Timor-Timur karena adanya insiden Santa Cruz (1991) dan Insiden Liquisa (1992). Indonesia dituduh telah melanggar hukum internasional, karena secara tidak sah melakukan aneksasi terhadap Timor-Timur.

Saat menjabat sebagai Kabid Politik di Ottawa (1992-1995), Nazar harus marathon dari satu kota ke kota lain dan melakukan pendekatan ke LSM di Kanada mengenai persoalan Timor-Timur.

"Untuk menghadapi tuduhan miring itu, perlu dilakukan lobi dan pertemuan dengan LSM, wartawan setempat dan kalangan akademisi Kanada," paparnya seperti yang tertulis di halaman 183.

Rekannya di Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sekdilu) dan sesama diplomat, Makarim Wibisono, mengatakan terdapat tiga hal pokok untuk menjadi seorang diplomat yakni integritas, kompetensi dan jiwa kepemimpinan.

Makarim menilai apa yang ditulis oleh Nazar adalah salah satu cara untuk mempersiapkan diplomat muda, karena diplomasi tidak bisa dipelajari namun bisa ditularkan.

Oleh karena itu, kata Makarim, buku tersebut wajib dipunyai oleh setiap orang yang ingin menjadi diplomat dan juga membina rumah tangga yang berlandaskan nilai-nilai religius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar