Kamis, 28 Mei 2020

Jurnal Pandemi : Arti Bahagia

Dear

Pagi ini, aku, Nana dan Rusdi bermain sepeda. Seperti biasa, Nana sulit dibangunkan. Tapi kemudian berteriak kencang ingin ikut, saat aku dan Rusdi mau turun ke bawah. Kami bersama-sama menuju kawasan pergudangan. Aku menggunakan sepeda lipat, Nana menggunakan sepedanya, dan Rusdi menggunakan sepeda gunung.

Naik sepeda pagi hari amat sejuk, hijau dedaunan yang masih berembun turut menyejukkan mata. Sepeda motor belum banyak yang berlalu-lalang. Seperti biasa, aku kesulitan saat naik tanjakan yang cukup tinggi. Aku memilih untuk turun dan berjalan dengan sepeda di tangan.

Sesampai di rumah, aku lihat emak manyun. Bibirnya terkatup dan tangannya memegang ponselnya. Tak lama kemudian dia marah-marah ke ponselnya, membahas tanah yang telah diberikan kepada anaknya. Aku diam saja dan memilih memasak nasi goreng.

Setiap hari ada-ada saja yang membuat suasana hati emak buruk. Pagi sebelumnya, ia menangis saat menelepon uda. Katanya ingin pulang ke Riau saja, tak tahan rasanya di sini bersamaku. Cuma sekarang lagi pandemi, jadi dia tak bisa kemana-mana.

Aku diam saja. Memang serba salah menghadapi orang tua, terkadang kata-katanya menghujam hati terkadang amat baik. Ingin rasanya membalas semua perkataannya, tapi setiap aku melawan keesokan harinya emak langsung sakit.

Terkadang emak tak bisa menahan diri, ia curhat dengan sembarang orang. Bahkan bisa menangis saat bercerita pada orang yang baru dikenalnya. Kadang malu juga dibuatnya kalau sudah curhat mengenai perilakuku. Memang, yang paling tabah menghadapi emak adalah Uda. Mungkin salah satu penyebabnya karena Uda sudah berumur. Uda tahun ini beruur 48 tahun sementara aku berumur 34 tahun. Emosiku masih meledak-ledak. Sulit ku kendalikan.

Terkadang pula, aku berpikir apa arti kebahagian untuk emak? Setiap bulan uda mengirimkan uang kepada emak. Jumlahnya lebih dari cukup. Lebaran juga uda memberikan uang yang juga lebih dari cukup. Tapi emak masih saja susah hatinya, jarang tersenyum. Sekarang-sekarang ini lebih baik karena dia lebih banyak mengaji.

Ingin rasanya membahagiakan emak. Tapi aku tidak tahu apa arti kebahagian bagi emak. Apa sih arti kebahagian bagi emak? Apakah dekat dengan anak semata wayangnya atau bergelimang uang. Kebahagian itu idealnya memang tak bisa diukur dengan materi. Kebahagian itu memang bukan tercipta tapi diciptakan dari hati yang bersyukur dengan kondisi yang ada.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar