Minggu, 11 November 2018

Buat Apa?

Seorang mengadu pada saya, jika si anu iri pada saya? Saya hanya tersenyum dan tidak tahu harus melakukan apa. Lagipula saya tidak peduli, hidup saya bukanlah untuk menyenangkan hati semua orang.Memang sedikit egois, tapi siapa peduli.

Saya terlalu sibuk untuk memikirkan banyak hal. Setiap pagi saya memasak, mengurus anak, bekerja, belajar, menemani anak belajar, menjalani kewajiban sebagai istri, beribadah. Hingga saya tak punya waktu untuk memikirkan pendapat orang lain.

Toh, kalaupun itu orang menghalangi jalan saya. Siapa yang peduli? Saya bisa mencari jalan lain. Hidup ini tak rumit sebenarnya, cukup berbuat sajalah. Maka semesta akan berpihak pada mu.  Stay positive

Sabtu, 29 September 2018

Tips Hemat Di Singapura

Singapura, negara kota yang persis berhadapan dengan Provinsi Kepulauan Riau, tidak hanya dikenal sebagai negara denda tetapi juga negara dengan biaya hidup yang mahal.

Survei yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit's (EIU) pada 2017 menyebutkan Singapore termasuk ranking teratas untuk tingginya biaya hidup. Terutama bagi para ekspatriat.

Apalagi bagi kita yang berasal dari Indonesia, yang mana rupiah amat sangat lemah. Dalam satu bulan, rate nya bisa berubah drastis. Contohnya, saya ketika menginjakkan kaki di negeri singa ini pada pertengahan Juli 2018, nilai tukar SGD ke IDR sekitar Rp10.500, namun sekarang pada akhir September 2018, nilai tukarnya meningkat menjadi Rp11.000. Apalagi kalau gajinya dalam rupiah. Sedihnya hati ini. Hiks.

Sabtu, 14 April 2018

Selamat Milad Nana

Tak terasa ya nak, umurmu menginjak lima tahun. Ibu masih ingat tiap detik di malam itu saat melahirkan kamu. Rasanya seperti apa. Tak perlu ibu jelaskan, toh kamu perempuan dan akan merasakan hal yang sama. Sudah kodrat kita nak, sebagai perempuan. Menstruasi, melahirkan dan menyusui. Setinggi apapun jabatan atau setinggi apapun pengetahuanmu, kita tetaplah perempuan nak.

Nak, ibu minta maaf belum menjadi ibu yang sempurna untukmu. Ibu tak bisa menemanimu di setiap harimu. Peran ibu, banyak digantikan nenek. Maafkan ibu nak. Ibu tak perlu pembelaan akan hal itu, karena ibu memang salah. Waktu yang tak pernah kembali dan ibu menyesali kenapa engkau cepat sekali besar.

Minggu, 04 Maret 2018

Cerita Tentang Mba Rini

Tadi pagi, sehabis Shubuh saya teringat dengan Mba Rini, senior saya di kantor. Saya kemudian mengirimkan pesan WA kepada dia, menanyakan kabar dan sampai sekarang belum dibalas. Semoga dalam keadaan baik-baik saja.

Kemarin juga pas outing kantor di Puncak, saya juga tidak melihat dia. Sebenarnya saya tidak akrab, cuma beberapa bulan ini sering ketemu. Saya lihat mukanya kuyu, pucat dan seperti tidak punya semangat hidup.Pernah saya tanya, mau kemana mba. Dia jawab mau ke RSCM, ada sesuatu dengan kepalanya. Saya katakan, semoga tidak kenapa-napa, lalu dijawabnya dengan tersenyum.

Tahun baru lalu, saat saya menunjukkan gejala sakit. Mba Rini yang memberi perhatian, padahal saat itu saya tugas piket tahun baru dan juga siaga. Kata dia, kesehatan lebih penting dan saya harus segera ke dokter. Dan benar, tepat sehabis siaga dan saat malam tahun baru saya sakit dan harus dirawat selama lima hari di rumah sakit.

Pertengahan bulan lalu, saat saya piket dan kebetulan mba Rini menjadi redakturnya. Dia cerita kalau sebenarnya dia terkena kanker otak.. Saya kaget, tapi ya mau bagaimana. Penyakit datang tanpa diketahui penyebabnya. Itu diketahuinya ketika bertugas di Beijing. Dokter di sana, divonis hanya tinggal beberapa bulan saja hidupnya. Duh dokter, sudah macam Alloh saja ya. Jangan nambah rukun Iman dengan percaya dengan dokter spesialis ya guys...

Ia juga merasa di sana seperti dibuang, tanpa adanya perhatian dari pihak perusahaan. Mungkin kalau menurut saya, karena mba Rini masih single dan keluarganya pun jauh dari dia. Jadi ketika sakit dan membutuhkan banyak perhatian dari orang yang disayang, dia justru sendirian di negeri orang.Saya tak bisa membayangkan jika dalam posisi dia.

Lalu, ia pun kembali ke Indonesia. Menjalani pengobatan dan semuanya berjalan dengan baik. Ia juga jalani pengobatan alternatif dengan ustadz. Menurutnya kondisinya semakin membaik. Alhamdulillah. Lepas dari semua itu, kami menyadari bahwa apa yang selama ini dicari entah itu jabatan, prestasi ataupun harta duniawi tak ada artinya, karena nanti yang menjadi bekal adalah amal soleh kami, amal yang kami torehkan. Kami banyak bercerita sambil makan pindang patin. Kami juga bercerita betapa baiknya Alloh SWT pada kami sehingga memberikan penyakit sebagai pengingat. Penyakit yang entah darimana datangnya, dan tiba-tiba dikasih saja oleh Alloh begitu saja. Ini anugerah, karena Alloh sayang kami. Sama dengan kisah Jubir BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, yang tiba-tiba terkena kanker paru stadium lanjut padahal dia selalu hidup sehat. Penyakit datang dengan cara tak terduga-duga...ya kan. Kembali ke mba rini, semoga kenapa-napa. Aamiin.


Perempuan

Perempuan,
Meski saya berjenis kelamin perempuan terkadang saya merasa jengah juga dengan makhluk bernama perempuan. Makanya saya tidak menikah dengan perempuan, tetapi lelaki. hehe
Sebenarnya ini ungkapan kekecewaan saya, terhadap sahabat saya yang menggugat cerai suaminya. Sebut saja namanya Melati. Melati sudah menikah dengan suaminya sejak 2013. Lumayan lama, sudah punya rumah di kota asalnya dan juga kendaraan. Bisa dikatakan akar muasalnya perceraiannya karena masalah ekonomi. Yah masalah ekonomi. Si perempuan merasa lelah menjadi tulang punggung, sementara si lelaki enak-enak saja berada di kontrakan tidur-tiduran dan kemudian marah-marah. Perbedaan etnis juga mempengaruhi, si suami Batak dan yang perempuan adalah Jawa yang halus.

Menikah itu rumit sebenarnya, jika tidak tujuannya apa. Tapi kalau tujuannya ingin ke surga, maka semua masalah akan dilewati dengan mudah. Singkat cerita, awalnya suaminya punya karir cemerlang sebagai peneliti di universitas top. Kemudian dia berkenalan dengan temannya orang Malaysia dan kemudian memutuskan menjadi pengusaha saja. Sang lelaki beranggapan jika dia tetap menjadi peneliti, maka peluangnya menjadi orang kaya menjadi kecil, bagaimana bisa membahagiakan keluarga besarnya yang hidup susah di kampung.

Kamis, 15 Februari 2018

Duh Nana

Mungkin kemarin, di saat hari kasih sayang katanya 14 Februari 2018 adalah hari yang buruk bagi Nana. Saya baru ingat jika baju olahraga yang seharusnya dipakai ke sekolah ternyata masih di laundry. Ia pun kemudian dengan males-malesan memakai baju bebas pergi ke sekolah. Awalnya dia enggan, dan bilang mau bolos saja. "Nana pura-pura sakit aja bu", duh anak 4,5 tahun punya pikiran macam itu. hehe

Jumat, 02 Februari 2018

Kita Hanya Perlu Taat

Setelah pencarian sekian lama, mungkin 20 tahun terakhir. Akhirnya saya mengetahui jawaban, dalam hidup. Hanya taat, ya hanya taat saja pada Tuhan yang menciptakan mu. Alloh SWT.
Dulu, saya pernah bertanya sama nenek saya. Waktu kelas satu atau SD. Nek, apakah Tuhan itu punya ayah dan ibu. Sayangnya waktu itu nenek saya tak bisa menjawabnya dengan baik.
Lalu, ketika kelas 5 SD,baca cerita nabi-nabi, saya merasakan ketidakadilan. Bagaimana ga adil, Nabi dan rasul yang mempunyai mukjizat dan kemudian dijamin masuk surga. Enak banget ya. Ga kaya manusia biasa yang harus berjuang lebih dahulu.
Padahal tidak, Nabi Muhammad SAW misalnya. Mungkin beliau adalah orang paling menderita di dunia ini. Yatim sejak lahir. Ibunya meninggal ketika kecil. Lalu disusul kakeknya. Diasuh pamannya Abu Thalib.
Menikah juga tidak dengan perawan, tapi janda. Tentu saja janda terhormat. Punya tujuh anak, yang mana enam anak meninggal duluan. Hanya Fatimah yang hidup lebih lama sedikit dibanding Rasul.
Lalu ketika menyebarkan agama Islam, diteror diancam bahkan dicari mau dibunuh. Duhai Nabi, tak sangguplah kami jika mendapat cobaan seperti Engkau.
Lalu, dalam perjalanan panjang saya. Mungkin bergelimang dosa. Saya mulai iri dengan teman-teman saya yang hidupnya mudah saja. Bayangkan meski lulus lambat, tapi kerja di perusahaan bergengsi kemudian menikah dan punya anak. Bahagia.