Apa jadinya seorang aktivis, yang terbiasa mengkritisi kebijakan pemerintah, menjadi seorang diplomat yang notabene harus membawa nama negara di panggung internasional?
Pergolakan batin tersebut diungkapkan oleh diplomat senior Indonesia, Nazaruddin E Nasution, dalam memoarnya "Dari Aktivis Menjadi Diplomat" yang diluncurkan pertengahan Mei lalu.
"Baik buruk Indonesia, adalah negara saya," ungkap lelaki yang akrab disapa dengan panggilan Bung Nazar itu.
Dalam memoar setebal 371 halaman itu, Nazar (70) menceritakan kisah hidupnya dalam empat bagian yakni kisah masa kecilnya, kehidupan sebagai aktivis, kiprahnya sebagai diplomat dan purnatugas.
Sebagai aktivis, kiprah putra Muhammad Yunan Nasution, tak perlu diragukan lagi. Kiprahnya itu diawali dari organisasi di lingkungan rumah yakni Persatuan Pemuda Kotabaru Grogol, organisasi di sekolah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan sederet organisasi lainnya. Di HMI, dia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan Ketua I PB HMI.
Ada cerita menarik yang diungkap oleh Nazar yakni ketika Kongres X HMI yang berlangsung di Palembang. Waktu itu banyak pihak yang mendorongnya untuk menjadi kandidat ketua umum, mulai dari Nurcholis Madjid, Mar`ie Muhammad, Eki Syachruddin, Jusuf Kalla, Zakaria Siregar dan lainnya.
Namun, semua permintaan seniornya tersebut ditampiknya dengan halus. Alasannya sederhana yakni ketika itu sudah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan ingin berprofesi menjadi seorang pengacara.