"Hidup nak jaya, mati nak sempurna.
Josiah nak panjang, buang sekalian bala.
Hanung mukmin seselang,
Ampuni dosa dan piala, nan tepebuat di dunia.
Karena tangan menjangkau, dan mulut berbicara."
Petatah-petitih permintaan pengampunan dalam dialek Talang Mamak tersebut keluar lancar dari mulut lelaki muda berkopiah.
Hari itu adalah perayaan Idul Adha Rabu (18/11) malam. Patih Majuan (23), pria muda itu, mengenakan kemeja kotak-kota dan bersarung, sementara mulutnya berbicara, tangannya menyembah Tuk Tumenggung yang duduk di atas sofa.
Sementara rekannya sibuk membakar kemenyan dan membawa ayam dan persembahan lainnya.
Tampilkan postingan dengan label Talang Mamak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Talang Mamak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 Mei 2011
Sabtu, 19 Maret 2011
Habis Hutan Lenyap Pula Adat
![]() |
| @antara |
Dia menikmati asap-asap putih yang keluar dari mulutnya hanya dengan menggunakan cawot, semacam kain yang menutup alat kelaminnya, sabil duduk di papan kayu.
Papan kayu berukuran satu kali satu setengah meter itu berada di bawah tenda tak berdinding beratapkan terpal hitam.
Pada pertengahan Juli itu, ia berdiam diri di pondok menunggu kedatangan istri dan anaknya dari bermalam, sebutan bagi orang rimba yang mencari ikan di sungai.
"Sudah habis semua hutan, hanya ini yang tersisa," ujar Sukur, anggota suku Anak Dalam yang bermukim di kawasan penyangga Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT), di perbatasan Riau-Jambi,Kabupaten Tebo, Jambi.
Langganan:
Postingan (Atom)

