Tampilkan postingan dengan label Gubernur Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gubernur Riau. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 November 2017

Membuat Berita itu Mudah

Sumpah, menulis berita atau artikel itu mudah….
Saya tak harus mengambil kuliah jurnalistik untuk bisa menulis sebuah artikel. Latar belakang pendidikan saya adalah teknik industri, yang tak memiliki kaitan dengan tulis-menulis. Namun memang saya suka membaca.
Pertama kali menulis, ketika masuk Riau Pos. Sebuah harian terbesar di Riau, kampung halaman saya. Hanya butuh waktu dua hari pelatihan, kami kemudian langsung ke lapangan. Sebegitu mudahnya kan…
Jadi begini, sebelum menulis sebuah artikel. Kita harus mengumpulkan informasi terlebih dahulu.  Misalnya, ada kecelakaan bus masuk jurang dan menewaskan 30 dari 83 jumlah penumpang.  Kita kumpulkan informasi sebanyak2nya dengan rumus 5W+1 H yakni who, what, where, when, why, how.

Rabu, 20 Juli 2011

Harapan di Negeri Bedebah


  Memasuki pertengahan tahun, wajah perpolitikan di negeri Lancang Kuning semakin sulit dimengerti. Kemunafikan dan kerakusan semakin terlihat.
  Mulai dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memerintahkan pilkada ulang kota Pekanbaru. Hingga penunjukan mantan Bupati Bengkalis, Syamsurizal, sebagai Plt wali kota Pekanbaru.
  Banyak yang bersorak, tapi tak sedikit yang putus asa. Semakin apatis terhadap reformasi di negeri itu.
  Keputusan MK itu menyentil sisi humanis masyarakat yang tersinggung dengan keputusan itu. Seakan suara mereka tak pernah didengar oleh lembaga konstitusi tertinggi di negeri ini. Tapi siapa yang peduli? Toh, kemenangan hanya milik penguasa.
  Dengan demikian hasil keputusan KPU yang menetapkan pasangan Firdaus-Ayat dibatalkan. Pilkada diulang kembali, dengan dua pasangan Firdaus-Ayat dan Septina Primawati Rusli (yang tak lain adalah istri gubernur)- Erizal Muluk.

Jumat, 15 Juli 2011

Randai Kuantan Bertahan di Tengah Gempuran


  Malam semakin larut ketika sayatan dawai biola memecah keheningan malam, disusul tabuhan gendang bertalu-talu, dan tiupan serunai. Gabungan tiga alat musik tersebut menghasilkan irama khas Melayu daratan.
Dua puluh lelaki yang pada mulanya duduk melingkar, beranjak berdiri dan mulai menghentakkan kaki ke bumi. Mereka berjoget bersama. Raut muka ceria dan gelak tawa menghiasi wajah mereka. Tak lama kemudian, satu per satu penonton memasuki panggung dan turut berjoget bersama.
  Yah, itu merupakan salah satu bagian pembuka dari Randai Kuantan yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, yang dipertontonkan di Taman Budaya Riau, Sabtu malam (27/3).
Selama ini Randai identik dengan seni tradisional Sumatra Barat, namun hal tersebut dipatahkan dengan adanya Randai Kuantan yang berasal dari Riau.