Sabtu, 14 April 2018

Selamat Milad Nana

Tak terasa ya nak, umurmu menginjak lima tahun. Ibu masih ingat tiap detik di malam itu saat melahirkan kamu. Rasanya seperti apa. Tak perlu ibu jelaskan, toh kamu perempuan dan akan merasakan hal yang sama. Sudah kodrat kita nak, sebagai perempuan. Menstruasi, melahirkan dan menyusui. Setinggi apapun jabatan atau setinggi apapun pengetahuanmu, kita tetaplah perempuan nak.

Nak, ibu minta maaf belum menjadi ibu yang sempurna untukmu. Ibu tak bisa menemanimu di setiap harimu. Peran ibu, banyak digantikan nenek. Maafkan ibu nak. Ibu tak perlu pembelaan akan hal itu, karena ibu memang salah. Waktu yang tak pernah kembali dan ibu menyesali kenapa engkau cepat sekali besar.

Minggu, 04 Maret 2018

Cerita Tentang Mba Rini

Tadi pagi, sehabis Shubuh saya teringat dengan Mba Rini, senior saya di kantor. Saya kemudian mengirimkan pesan WA kepada dia, menanyakan kabar dan sampai sekarang belum dibalas. Semoga dalam keadaan baik-baik saja.

Kemarin juga pas outing kantor di Puncak, saya juga tidak melihat dia. Sebenarnya saya tidak akrab, cuma beberapa bulan ini sering ketemu. Saya lihat mukanya kuyu, pucat dan seperti tidak punya semangat hidup.Pernah saya tanya, mau kemana mba. Dia jawab mau ke RSCM, ada sesuatu dengan kepalanya. Saya katakan, semoga tidak kenapa-napa, lalu dijawabnya dengan tersenyum.

Tahun baru lalu, saat saya menunjukkan gejala sakit. Mba Rini yang memberi perhatian, padahal saat itu saya tugas piket tahun baru dan juga siaga. Kata dia, kesehatan lebih penting dan saya harus segera ke dokter. Dan benar, tepat sehabis siaga dan saat malam tahun baru saya sakit dan harus dirawat selama lima hari di rumah sakit.

Pertengahan bulan lalu, saat saya piket dan kebetulan mba Rini menjadi redakturnya. Dia cerita kalau sebenarnya dia terkena kanker otak.. Saya kaget, tapi ya mau bagaimana. Penyakit datang tanpa diketahui penyebabnya. Itu diketahuinya ketika bertugas di Beijing. Dokter di sana, divonis hanya tinggal beberapa bulan saja hidupnya. Duh dokter, sudah macam Alloh saja ya. Jangan nambah rukun Iman dengan percaya dengan dokter spesialis ya guys...

Ia juga merasa di sana seperti dibuang, tanpa adanya perhatian dari pihak perusahaan. Mungkin kalau menurut saya, karena mba Rini masih single dan keluarganya pun jauh dari dia. Jadi ketika sakit dan membutuhkan banyak perhatian dari orang yang disayang, dia justru sendirian di negeri orang.Saya tak bisa membayangkan jika dalam posisi dia.

Lalu, ia pun kembali ke Indonesia. Menjalani pengobatan dan semuanya berjalan dengan baik. Ia juga jalani pengobatan alternatif dengan ustadz. Menurutnya kondisinya semakin membaik. Alhamdulillah. Lepas dari semua itu, kami menyadari bahwa apa yang selama ini dicari entah itu jabatan, prestasi ataupun harta duniawi tak ada artinya, karena nanti yang menjadi bekal adalah amal soleh kami, amal yang kami torehkan. Kami banyak bercerita sambil makan pindang patin. Kami juga bercerita betapa baiknya Alloh SWT pada kami sehingga memberikan penyakit sebagai pengingat. Penyakit yang entah darimana datangnya, dan tiba-tiba dikasih saja oleh Alloh begitu saja. Ini anugerah, karena Alloh sayang kami. Sama dengan kisah Jubir BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, yang tiba-tiba terkena kanker paru stadium lanjut padahal dia selalu hidup sehat. Penyakit datang dengan cara tak terduga-duga...ya kan. Kembali ke mba rini, semoga kenapa-napa. Aamiin.


Perempuan

Perempuan,
Meski saya berjenis kelamin perempuan terkadang saya merasa jengah juga dengan makhluk bernama perempuan. Makanya saya tidak menikah dengan perempuan, tetapi lelaki. hehe
Sebenarnya ini ungkapan kekecewaan saya, terhadap sahabat saya yang menggugat cerai suaminya. Sebut saja namanya Melati. Melati sudah menikah dengan suaminya sejak 2013. Lumayan lama, sudah punya rumah di kota asalnya dan juga kendaraan. Bisa dikatakan akar muasalnya perceraiannya karena masalah ekonomi. Yah masalah ekonomi. Si perempuan merasa lelah menjadi tulang punggung, sementara si lelaki enak-enak saja berada di kontrakan tidur-tiduran dan kemudian marah-marah. Perbedaan etnis juga mempengaruhi, si suami Batak dan yang perempuan adalah Jawa yang halus.

Menikah itu rumit sebenarnya, jika tidak tujuannya apa. Tapi kalau tujuannya ingin ke surga, maka semua masalah akan dilewati dengan mudah. Singkat cerita, awalnya suaminya punya karir cemerlang sebagai peneliti di universitas top. Kemudian dia berkenalan dengan temannya orang Malaysia dan kemudian memutuskan menjadi pengusaha saja. Sang lelaki beranggapan jika dia tetap menjadi peneliti, maka peluangnya menjadi orang kaya menjadi kecil, bagaimana bisa membahagiakan keluarga besarnya yang hidup susah di kampung.

Kamis, 15 Februari 2018

Duh Nana

Mungkin kemarin, di saat hari kasih sayang katanya 14 Februari 2018 adalah hari yang buruk bagi Nana. Saya baru ingat jika baju olahraga yang seharusnya dipakai ke sekolah ternyata masih di laundry. Ia pun kemudian dengan males-malesan memakai baju bebas pergi ke sekolah. Awalnya dia enggan, dan bilang mau bolos saja. "Nana pura-pura sakit aja bu", duh anak 4,5 tahun punya pikiran macam itu. hehe

Jumat, 02 Februari 2018

Kita Hanya Perlu Taat

Setelah pencarian sekian lama, mungkin 20 tahun terakhir. Akhirnya saya mengetahui jawaban, dalam hidup. Hanya taat, ya hanya taat saja pada Tuhan yang menciptakan mu. Alloh SWT.
Dulu, saya pernah bertanya sama nenek saya. Waktu kelas satu atau SD. Nek, apakah Tuhan itu punya ayah dan ibu. Sayangnya waktu itu nenek saya tak bisa menjawabnya dengan baik.
Lalu, ketika kelas 5 SD,baca cerita nabi-nabi, saya merasakan ketidakadilan. Bagaimana ga adil, Nabi dan rasul yang mempunyai mukjizat dan kemudian dijamin masuk surga. Enak banget ya. Ga kaya manusia biasa yang harus berjuang lebih dahulu.
Padahal tidak, Nabi Muhammad SAW misalnya. Mungkin beliau adalah orang paling menderita di dunia ini. Yatim sejak lahir. Ibunya meninggal ketika kecil. Lalu disusul kakeknya. Diasuh pamannya Abu Thalib.
Menikah juga tidak dengan perawan, tapi janda. Tentu saja janda terhormat. Punya tujuh anak, yang mana enam anak meninggal duluan. Hanya Fatimah yang hidup lebih lama sedikit dibanding Rasul.
Lalu ketika menyebarkan agama Islam, diteror diancam bahkan dicari mau dibunuh. Duhai Nabi, tak sangguplah kami jika mendapat cobaan seperti Engkau.
Lalu, dalam perjalanan panjang saya. Mungkin bergelimang dosa. Saya mulai iri dengan teman-teman saya yang hidupnya mudah saja. Bayangkan meski lulus lambat, tapi kerja di perusahaan bergengsi kemudian menikah dan punya anak. Bahagia.

Sabtu, 27 Januari 2018

Rencana Pengobatan Sindrom Nefrotik

Seperti janji saya sebelumnya, saya akan menulis mengenai rencana pengobatan Sindrom Nefrotik yang berasal dari Dr Wee Tuang Hong. Seorang nefrologis, yakni dokter penyakit dalam yang khusus mempelajari ginjal dan fungsinya. Beliau praktik di Mahkota Medical Hospital, Melaka, Malaysia.

Singkat cerita, ia meminta saya untuk menceritakan kronologis penyakit yang saya derita. Saya katakan, saya mulai merasakan penyakit saya itu sejak awal November 2017. Berawal dari kecurigaan sahabat saya, Mami Tri, karena kaki saya bengkak. Saya merasa tak apa-apa, dan berpikir bahwa semua ini karena masalah kelenjar tiroid (hipertiroid) yang saya derita sudah membaik dan efeknya berat badan saya naik. Memang pada saat itu, kelenjar tiroid di leher saya tak lagi bengkak.

Dilihat satu minggu, dua minggu, kaki makin bengkak. Kemudian sahabat-sahabat saya menyarankan ke dokter untuk periksa ginjal. Saya bertanya pada sahabat saya sejak SD yang kini jadi dokter residen di RS Sardjito, ia menyarankan saya untuk cek darah yakni ureum dan kreatinin.

Saya kemudian cek darah ureum dan kreatinin, kemudian bikin jadi urologist, Dr Charles Hutasoit. Saya ceritakan keluhan saya soal kaki bengkak. Ia kemudian melakukan USG Ginjal, Alhamdulillah hasilnya normal. Kemudian ia juga menyarankan saya untuk cek urine lengkap. Pada saat ke dokter Charles berat badan saya sudah naik ke 48 kilogram, dari semula 43-44 kg.  Saat mau pulang, saya bertanya apakah ada kemungkinan bengkak di kaki ini karena cairan infus? Pada Oktober lalu, saya memang dirawat tiga hari karena tifus dan menghabiskan enam botol cairan. Dokter jawab bisa jadi.

Jumat, 26 Januari 2018

Bedanya Dokter Indonesia dan Dokter Malaysia, Ikhtiar Pengobatan Sindrom Nefrotik

Kembali ke ikhtiar saya, dalam pengobatan penyakit saya Sindrom Nefrotik atau yang dikenal dengan ginjal bocor. Sebenarnya bukan pengobatan sih alasan saya datang ke negeri jiran ini, tepatnya malah mencari pendapat kedua setelah tak mendapat penjelasan yang memuaskan dari dokter di Indonesia.

Pagi sehabis sarapan roti canai di kedai India, kami berangkat ke Mahkota Medical Center. Jaraknya paling sekitar 30 meter saja dari hotel. Dulu pas nganter emak berobat ke sini, belum ada hotel Hatten. Sekarang sudah ada hotel megah di kawasan ini.

Sesampai di lobby,liat yang antre di lantai dasar cukup ramai. Kami memutuskan naik ke lantai satu, dan benar hanya ada satu antrean saja. Di rumah sakit ini, pelayanannya ramah dan sangat membantu jika ada yang membutuhkan informasi. Nama-nama dokter dan keahliannya terpajang di layar yang ada di sudut ruangan.

Kami mendaftar, bayar RM4 saja. Saya memutuskan untuk bertemu dengan dokter endokrin dan dokter penyakit dalam dengan keahlian ginjal, atau yang disebut dengan nefrolog. Untuk endokrin, saya bertemu dengan Dr Lim Shiang Chin. Dokter perempuan, masih muda dan China Malaysia. Ia dokter lulusan Universiti Kebangsaaan Malaysia, yang kemudian mengambil spesialis di kampus bergengsi di MRCP di Inggris.

 Untuk nefrolog, saya bertemu dengan Dr Wee Tuang Hong yang juga lulusan Inggris. Umurnya mungkin diatas 50 tahun dan banyak pengalaman.

Jam delapan tepat, kami mulai antre. Di sini, praktik dokter tidak tersentralisasi di rumah sakit.. Namun dokter yang membuka praktik sendiri di rumah sakit. Jadi ada ruangan yang cukup luas untuk tiap ruang kliniknya. Ada bagian administrasi dan ada juga yang bagian farmasi. Pembayaran untuk konsultasi dan pengobatan cukup di ruangan itu saja. Kecuali untuk laboratorium, pembayarannya baru ke rumah sakit. Itupun ada di setiap lantai. Jadi tak perlu ke lantai dasar (biasanya kalau di Indonesia).


Dokter yang saya datangi dulu adalah Dr Lim Shiang Chin. Dokter praktik pukul 8.30, namun pukul 8.15 dokter sudah datang dengan langkah sambil menenteng tasnya. Dokternya masih muda, imut dan berambut panjang yang tergerai. Tapi jangan tanya pasiennya, membludak. 90 persen adalah orang Indonesia dengan keluhan beragam mulai dari diabetes, tiroid dan masalah lainnya.


Tak lama, setelah saya kasihkan form pendaftaran, suster panggil saya. Nanya hasil laboratorium terbaru dan kemudian cek berat badan dan tensi. Karena saya baru diopname dua minggu lalu, hasil lab saya masih bisa dipakai. Biasanya untuk tiroid cek darah per tiga bulan.

Setelah menunggu hampir satu jam setengah (pasiennya banyak), tibalah giliran saya. Dokter tersenyum melihat kami dan mempersilahkan duduk. Saya duduk di kursi yang ada di depan meja dokter. Dokter Lim suruh saya pindah duduk, ke dekat dia. Di ruangan itu juga ada tempat tidur.

Di dalam ruangan, tak ada suster yang menemani. Ia tanya bagaimana keadaan saya, kronologis penyakit saya. Saya ceritakan semuanya termasuk konsumsi obat apa. Saya bilang, saya nakal karena saya putus minum obat setelah satu tahun, kemudian pindah dokter lalu minum obat dan kemudian makan obat lagi.

 Saya divonis hipertiroid pada 2015, emak saya heran mengapa leher saya membesar. Saya juga merasakan cemas dan jantung berdegup kencang. Awalnya saya ke dokter di Awal Bross Tangerang, kemudian pindah ke Dokter Susilowati di Siloam Kebon Jeruk, kemudian ke Prof Slamet Suyono yang katanya ahli tiroid. Tapi dari semuanya saya kurang mendapat penjelasan dan ya itu harus minum obat seumur hidup.

Kembali ke dokter Lim, setelah mendapat penjelasan saya. Ia kemudian nanya sekarang minum obat apa. Saya bilang Thyrozol 10 mg, satu kali sehari. Itupun setelah saya diopname. Ia tersenyum dan kemudian berlutut di depan saya. Dia angkat kaki saya, dan kemudian mengecek setiap detil kaki saya, apa ada varises. Sumpah saya kaget. Kemudian tangan dikedepanin, untuk mengecek apa ada tremor. Dr Susilowati, juga detil seperti Dr Lim, tapi tetap dibantu perawat.