Saya kira benar adanya, jika rutinitas itu membunuh. Membunuh kreaktivitas, membunuh semangat hidup dan membunuh alam pikiran.
Saya harus katakan, perlu ada semacam penyegaran. Tapi anda boleh bertanya, dengan kehidupan yang monoton, jalan raya yang semerawut, dan biaya hidup yang tinggi, bagaimana hal itu mungkin terjadi.
Jawabnya...aaahhh, sudah lah, lupakan saja. Bagi saya arti kata semangat asal tulis saja
Minggu, 23 Februari 2014
Kamis, 26 September 2013
Gerimis Meruncing Kamis Pagi
Gerimis meruncing kamis pagi ini. Menyayat hati yang lama terselabung kabut kebekuan hati. Akankah kau tahu? Aku pikir kau tidak akan pernah tahu. Lagipula selama ini kau tak acuh.
Kau tahu? Pagi ini malaikat kematian menyembul di jendela kamarku. Aku kembali bertanya, kapan waktuku.
"Belum waktunya," katanya menyeringai memperlihatkan taringnya yang runcing.
Lagi-lagi aku mengeluh. Percuma saja, aku hidup. Kehidupan ini lebih buruk dari kematian sekalipun. Tak seorang pun yang menginginkkannya, desisku.
Lagi, lagi, malaikat itu tak peduli, dan terbang sekenanya...
Gerimis meruncing dan memerah pagi ini
Sedangkan aku masih meratap di kolam kesedihan
Akhh...kamu tidak akan tahu
Kau tahu? Pagi ini malaikat kematian menyembul di jendela kamarku. Aku kembali bertanya, kapan waktuku.
"Belum waktunya," katanya menyeringai memperlihatkan taringnya yang runcing.
Lagi-lagi aku mengeluh. Percuma saja, aku hidup. Kehidupan ini lebih buruk dari kematian sekalipun. Tak seorang pun yang menginginkkannya, desisku.
Lagi, lagi, malaikat itu tak peduli, dan terbang sekenanya...
Gerimis meruncing dan memerah pagi ini
Sedangkan aku masih meratap di kolam kesedihan
Akhh...kamu tidak akan tahu
Rabu, 07 Agustus 2013
Rindu Menulis
Aku rindu kembali menulis...
Menarikan jari-jemari diatas tuts keyboard netbook suamiku, dan menuangkan isi pikiranku. Rasanya sudah lama, aku tidak menulis. Sebulan, dua bulan. Akh tidak, bahkan berbulan-bulan.
Aku sudah lupa bagaimana rasanya menulis. Otakku mungkin sedikit kacau dibuatnya. Apa yang ada di kepala tidak bisa aku tuangkan.
Memang, sejak hamil, melahirkan hingga punya anak, waktuku semakin sempit saja. Aku rasa 24 jam tidak cukup. Bangun pagi, bermain dengan anak, memandikan anak, mengasuh anak, kerja, memerah susu, mengurusi suami,,, Ahhh,,,, bahkan aku kehilangan waktu untuk diriku sendiri.
Ahhh, aku rindu menulis...
Jumat, 29 Juni 2012
Memoar Seorang Diplomat Senior Indonesia
Apa jadinya seorang aktivis, yang terbiasa mengkritisi kebijakan pemerintah, menjadi seorang diplomat yang notabene harus membawa nama negara di panggung internasional?
Pergolakan batin tersebut diungkapkan oleh diplomat senior Indonesia, Nazaruddin E Nasution, dalam memoarnya "Dari Aktivis Menjadi Diplomat" yang diluncurkan pertengahan Mei lalu.
"Baik buruk Indonesia, adalah negara saya," ungkap lelaki yang akrab disapa dengan panggilan Bung Nazar itu.
Dalam memoar setebal 371 halaman itu, Nazar (70) menceritakan kisah hidupnya dalam empat bagian yakni kisah masa kecilnya, kehidupan sebagai aktivis, kiprahnya sebagai diplomat dan purnatugas.
Sebagai aktivis, kiprah putra Muhammad Yunan Nasution, tak perlu diragukan lagi. Kiprahnya itu diawali dari organisasi di lingkungan rumah yakni Persatuan Pemuda Kotabaru Grogol, organisasi di sekolah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan sederet organisasi lainnya. Di HMI, dia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan Ketua I PB HMI.
Ada cerita menarik yang diungkap oleh Nazar yakni ketika Kongres X HMI yang berlangsung di Palembang. Waktu itu banyak pihak yang mendorongnya untuk menjadi kandidat ketua umum, mulai dari Nurcholis Madjid, Mar`ie Muhammad, Eki Syachruddin, Jusuf Kalla, Zakaria Siregar dan lainnya.
Namun, semua permintaan seniornya tersebut ditampiknya dengan halus. Alasannya sederhana yakni ketika itu sudah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan ingin berprofesi menjadi seorang pengacara.
Kisah Laskar yang Tak Pernah Mati
Jika ditanya, laskar apa yang tak pernah mati? Jawabannya adalah Laskar Pelangi, sebuah novel yang kisah perjuangan 10 anak miskin Belitong dalam menggapai pendidikan.
Suka atau tidak, sejak kemunculan pertamanya pada 2005, nama Laskar Pelangi seakan tak pernah surut dari pemberitaan.
Laskar yang satu ini, seakan tak pernah kehilangan tuahnya. Dia sekaan memiliki kekuatan yang bisa mengubah suatu daerah. Kunjungan wisatawan ke Belitong meningkat hingga 800 persen sejak novel tersebut terbit.
Nama Laskar Pelangi pun seakan menjadi "jualan" yang pastinya akan laris manis.
Di Belitong kita akan menemukan tujuan wisata yakni Galeri Laskar Pelangi, sekolah Laskar Pelangi, Festival Laskar Pelangi, pelabuhan Laskar Pelangi, jalan yang bernama Laskar Pelangi bahkan "seabrek" warung yang menambahkan embel-embel itu. Bahkan Belitung Timur dijuluki sebagai negeri Laskar Pelangi.
Impian Kecil Nek Rafiah
Adzan Maghrib mulai berkumandang, saat Rafiah (74) bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan tertatih hendak menutup warung miliknya.
Dengan sekuat tenaga, dia melepaskan pengait penutup warung yang terbuat dari kayu itu, dan menahannya agar tidak membentur keras. Baru kemudian menguncinya dari dalam warung.
Semua dilakukannya seorang diri. Pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu lima menit itu, terasa lebih lama.
Langkah perempuan yang akrab disapa Nek Rafiah oleh warga sekitar, tak sekencang 10 tahun yang lalu. Badannya pun tak setegap dulu, separuh badannya bungkuk. Tak heran apa yang dikerjakan lebih lamban.
Sejak 10 tahun yang lalu, Nek Rafiah hidup seorang diri di warung kecil miliknya di Jalan Pintu Air IV Pasar Baru. Jangan bayangkan, warung miliknya itu besar dan barang-barang yang dijualnya lengkap.
Warung kayu itu hanya berukuran 1x1,5 meter, separuhnya terbuat dari kayu dan separuhnya lagi dari kardus yang disusun. Barang-barang yang dijualnya tak sepenuhnya lengkap, hanya ada beberapa mie instan, beberapa batang rokok dan tiga bungkus susu coklat yang tergantung di sudut warung.
Melawan Lupa, Pesan Jepang Untuk Dunia
Bagaimana cara warga Jepang dalam menghadapi bencana alam yang kerap menimpa negaranya? Ya, mereka melakukannya dengan melawan lupa atas bencana yang terjadi di negaranya tersebut.
"Kami melawannya dengan tidak melupakannya. Jangan pernah lupa dengan bencana-bencana yang pernah terjadi," ujar Direktur Jenderal Japan Foundation wilayah Asia Tenggara, Ogawa Todashi, di Jakarta, Jumat.
Todashi mengatakan sebagai manusia mempunyai sifat yang mudah lupa. Rata-rata masyarakat lupa akan bencana setelah 10 hingga 20 tahun kemudian. Oleh karena itu, Jepang mengingat setiap bencana besar yang pernah melanda negeri Matahari tersebut.
Tak heran, setiap 1 September warga Jepang memperingatinya sebagai Hari Pencegahan Bencana.
Tanggal 1 September diperingati karena terjadinya gempa yang mengguncang wilayah Kanto, di Pulau Honshu, pada 1923. Gempa yang diperkirakan kemudian berkekuatan antara 7,9 hingga 8,4 skala Richter menimbulkan kerusakan massal pada wilayah Kanto, Tokyo, Yokohama, Chiba, Kanagawa, dan Shizuoka.
Diperkirakan 105.385 orang tewas dan 37.000 orang hilang dalam peristiwa tersebut. Kebakaran yang menyusul gempa Bumi merupakan sebab kematian yang terbesar.
Langganan:
Postingan (Atom)