Rabu, 07 Agustus 2013
Rindu Menulis
Aku rindu kembali menulis...
Menarikan jari-jemari diatas tuts keyboard netbook suamiku, dan menuangkan isi pikiranku. Rasanya sudah lama, aku tidak menulis. Sebulan, dua bulan. Akh tidak, bahkan berbulan-bulan.
Aku sudah lupa bagaimana rasanya menulis. Otakku mungkin sedikit kacau dibuatnya. Apa yang ada di kepala tidak bisa aku tuangkan.
Memang, sejak hamil, melahirkan hingga punya anak, waktuku semakin sempit saja. Aku rasa 24 jam tidak cukup. Bangun pagi, bermain dengan anak, memandikan anak, mengasuh anak, kerja, memerah susu, mengurusi suami,,, Ahhh,,,, bahkan aku kehilangan waktu untuk diriku sendiri.
Ahhh, aku rindu menulis...
Jumat, 29 Juni 2012
Memoar Seorang Diplomat Senior Indonesia
Apa jadinya seorang aktivis, yang terbiasa mengkritisi kebijakan pemerintah, menjadi seorang diplomat yang notabene harus membawa nama negara di panggung internasional?
Pergolakan batin tersebut diungkapkan oleh diplomat senior Indonesia, Nazaruddin E Nasution, dalam memoarnya "Dari Aktivis Menjadi Diplomat" yang diluncurkan pertengahan Mei lalu.
"Baik buruk Indonesia, adalah negara saya," ungkap lelaki yang akrab disapa dengan panggilan Bung Nazar itu.
Dalam memoar setebal 371 halaman itu, Nazar (70) menceritakan kisah hidupnya dalam empat bagian yakni kisah masa kecilnya, kehidupan sebagai aktivis, kiprahnya sebagai diplomat dan purnatugas.
Sebagai aktivis, kiprah putra Muhammad Yunan Nasution, tak perlu diragukan lagi. Kiprahnya itu diawali dari organisasi di lingkungan rumah yakni Persatuan Pemuda Kotabaru Grogol, organisasi di sekolah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan sederet organisasi lainnya. Di HMI, dia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan Ketua I PB HMI.
Ada cerita menarik yang diungkap oleh Nazar yakni ketika Kongres X HMI yang berlangsung di Palembang. Waktu itu banyak pihak yang mendorongnya untuk menjadi kandidat ketua umum, mulai dari Nurcholis Madjid, Mar`ie Muhammad, Eki Syachruddin, Jusuf Kalla, Zakaria Siregar dan lainnya.
Namun, semua permintaan seniornya tersebut ditampiknya dengan halus. Alasannya sederhana yakni ketika itu sudah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan ingin berprofesi menjadi seorang pengacara.
Kisah Laskar yang Tak Pernah Mati
Jika ditanya, laskar apa yang tak pernah mati? Jawabannya adalah Laskar Pelangi, sebuah novel yang kisah perjuangan 10 anak miskin Belitong dalam menggapai pendidikan.
Suka atau tidak, sejak kemunculan pertamanya pada 2005, nama Laskar Pelangi seakan tak pernah surut dari pemberitaan.
Laskar yang satu ini, seakan tak pernah kehilangan tuahnya. Dia sekaan memiliki kekuatan yang bisa mengubah suatu daerah. Kunjungan wisatawan ke Belitong meningkat hingga 800 persen sejak novel tersebut terbit.
Nama Laskar Pelangi pun seakan menjadi "jualan" yang pastinya akan laris manis.
Di Belitong kita akan menemukan tujuan wisata yakni Galeri Laskar Pelangi, sekolah Laskar Pelangi, Festival Laskar Pelangi, pelabuhan Laskar Pelangi, jalan yang bernama Laskar Pelangi bahkan "seabrek" warung yang menambahkan embel-embel itu. Bahkan Belitung Timur dijuluki sebagai negeri Laskar Pelangi.
Impian Kecil Nek Rafiah
Adzan Maghrib mulai berkumandang, saat Rafiah (74) bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan tertatih hendak menutup warung miliknya.
Dengan sekuat tenaga, dia melepaskan pengait penutup warung yang terbuat dari kayu itu, dan menahannya agar tidak membentur keras. Baru kemudian menguncinya dari dalam warung.
Semua dilakukannya seorang diri. Pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu lima menit itu, terasa lebih lama.
Langkah perempuan yang akrab disapa Nek Rafiah oleh warga sekitar, tak sekencang 10 tahun yang lalu. Badannya pun tak setegap dulu, separuh badannya bungkuk. Tak heran apa yang dikerjakan lebih lamban.
Sejak 10 tahun yang lalu, Nek Rafiah hidup seorang diri di warung kecil miliknya di Jalan Pintu Air IV Pasar Baru. Jangan bayangkan, warung miliknya itu besar dan barang-barang yang dijualnya lengkap.
Warung kayu itu hanya berukuran 1x1,5 meter, separuhnya terbuat dari kayu dan separuhnya lagi dari kardus yang disusun. Barang-barang yang dijualnya tak sepenuhnya lengkap, hanya ada beberapa mie instan, beberapa batang rokok dan tiga bungkus susu coklat yang tergantung di sudut warung.
Melawan Lupa, Pesan Jepang Untuk Dunia
Bagaimana cara warga Jepang dalam menghadapi bencana alam yang kerap menimpa negaranya? Ya, mereka melakukannya dengan melawan lupa atas bencana yang terjadi di negaranya tersebut.
"Kami melawannya dengan tidak melupakannya. Jangan pernah lupa dengan bencana-bencana yang pernah terjadi," ujar Direktur Jenderal Japan Foundation wilayah Asia Tenggara, Ogawa Todashi, di Jakarta, Jumat.
Todashi mengatakan sebagai manusia mempunyai sifat yang mudah lupa. Rata-rata masyarakat lupa akan bencana setelah 10 hingga 20 tahun kemudian. Oleh karena itu, Jepang mengingat setiap bencana besar yang pernah melanda negeri Matahari tersebut.
Tak heran, setiap 1 September warga Jepang memperingatinya sebagai Hari Pencegahan Bencana.
Tanggal 1 September diperingati karena terjadinya gempa yang mengguncang wilayah Kanto, di Pulau Honshu, pada 1923. Gempa yang diperkirakan kemudian berkekuatan antara 7,9 hingga 8,4 skala Richter menimbulkan kerusakan massal pada wilayah Kanto, Tokyo, Yokohama, Chiba, Kanagawa, dan Shizuoka.
Diperkirakan 105.385 orang tewas dan 37.000 orang hilang dalam peristiwa tersebut. Kebakaran yang menyusul gempa Bumi merupakan sebab kematian yang terbesar.
Kekuatan Mimpi Andrea, Dari Belitung Untuk Dunia
Ada peribahasa Melayu yang mengatakan "bayang-bayang sepanjang badan" yang artinya apa yang dikerjakan hendaklah disesuaikan dengan kekuatan diri sendiri. Tapi tampaknya peribahasa itu tak berlaku bagi seorang bujang Melayu yang dikenal dengan nama Andrea Hirata.
Andrea Hirata dalam kasus ini, mendobrak paradigma orang Melayu kebanyakan dan terbang bersama mimpinya yang telah tertanam di benaknya sejak lama. Siapa sangka, penulis yang berasal dari Desa Belitung itu kini sudah mendunia melalui novel pertamanya yang fenomenal, Laskar Pelangi. Novel yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada 2005.
Novel inspirasional yang bercerita tentang 10 anak dari keluarga miskin dari Belitung itu tidak hanya menjadi buku terlaris di Indonesia dan sudah difilmkan oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Novel itu juga telah dialih bahasakan ke 22 bahasa.
Dan pada 12 Maret lalu, novel tersebut disetujui Penerbit Amerika Serikat, Farrar, Strauss and Giroux (FSG), untuk diterbitkan dalam edisi berbahasa Inggris novel karya Andrea Hirata yang berjudul "Laskar Pelangi."
"Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu," ujar Andrea Hirata mengutip ucapan salah satu tokoh, Arai, dalam novel Sang Pemimpi yang juga ciptaannya ketika berkisah di Pusat Kebudayaan Amerika, akhir pekan lalu.
Dia mengaku kalau dirinya adalah seorang pemimpi. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan menjadi seorang mimpi. Bagaimanapun melalui mimpi-mimpinya yang diiringi dengan tekad yang kuat dan kerja keras, Andrea perlahan-lahan mewujudkan mimpinya itu.
Mengenal Nauryz, Perayaan Datangnya Musim Semi di Kazakhstan
Nauryz adalah salah satu hari libur tertua di dunia. Hari libur itu menandakan mulainya musim semi dan kehidupan baru di Bumi. Hari libur itu telah dirayakan sejak 5000 tahun yang lalu oleh banyak suku bangsa di Asia bagian tengah sejak lim aribu tahun yang lalu. Bahkan banyak sumber menyebutkan hari libur itu juga dirayakan oleh orang Slavia.
Catatan sejarah tentang hari libur itu dapat ditemukan di dokumen kuno maupun yang berasal dari abad pertengahan. Dalam kronologi Timur, hari libur itu berkaitan dengan Navruz, yakni tahun baru Bangsa Iran.
Kazakhs, Uzbeks dan Uighur merayakan tradisi Nauryz dari generasi ke generasi. Suku Tajiks menyebutnya Gulgardon atau Gulnavruz, sedangkan suku Tatars menyebutnya Nardugan, sedangkan Yunani kuni menyebutnya dengan sebutan Patrich.
Akar dari hari libur ini dapat ditelusuri melalui dari ritual kuno pemuja berhala.Perayaan itu berarti untuk menggambarkan kecintaan manusia kepada alam. Orang-orang tetap memelihara tradisi itu dan saat ini dipercaya hari libur tersebut mempunyai makna spritual dan etika baru.
Langganan:
Postingan (Atom)