Sepekan menjelang hari pernikahan saya, saya pun mendemam. Mendemam adalah Bahasa Melayu, untuk menggambarkan kondisi badan yang panas-dingin, dan sekujur badan rasanya gemetar. Dalam Bahasa Indonesia-nya adalah meriang.
Hufft...lagi-lagi saya harus menghembuskan nafas. Ternyata mengurus pernikahan sendiri hanya bedua dengan pasangan itu cukup merepotkan, meskipun ada nilai tambahnya yakni acara sesuai dengan yang diinginkan.
Mulai dari mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan, mendaftar di KUA (yang kemudian dibantu pihak keluarga calon suami), mencari gedung, menentukan menu makanan, pakaian, salon, undangan, memikirkan acara dan menyebarkan undangan.
Rasanya, hmmm pusing tingkat dewa.
