Pius Pope datang terlambat setengah jam, dari jadwal seharusnya. Begitu datang, ia langsung otak-atik komputer. Perawakannya kecil, sebagian rambutnya mengalami penipisan. Usianya kemungkinan diatas 60-an (dia mengatakan datang ke Jakarta pada 1959 untuk kuliah).
Pius bukan orang yang suka berbasa-basi. Ia langsung ke topik dan mengajar dengan sepenuh hati. Pertama-tama disuruh mengucapkan kata AAAaaaaaa...mulai dari nada tinggi hingga rendah. Saya yang setengah mengantuk, pun mengikutinya. AAaaaa....
Dia mengatakan, untuk menjadi penyiar harus menggunakan suara rendah. Apa sebab? karena penyiar membutuhkan hubungan emosional yang sangat dekat dengan pemirsanya. Jadi tidak perlu dengan menggunakan nada tinggi. Menurutnya cukup dengan suara rendah saja.
Dalam pengucapannya pun, Pius mengatakan tidak sembarang ucap. Perlu bantuan tangan untuk mengatur tinggi rendahnya. Kata dia, tinggi rendah suara dapat diatur dengan menggunakan tangan. Semula, saya tidak percaya hal itu. Tapi setelah dipraktikan..Wow...
Coba deh, anda angkat tangan tinggi-tinggi dan kemudian menurunkannya sembari mengucapkan kata AAAAA...maka secara otomatis, tinggi rendahnya suara yang dikeluarkan pun akan mengikutinya.

