Rabu, 19 Maret 2014

Lelaki dengan hati seluas samudra

   Saya mengenalnya, sangat mengenalnya. Bahkan sangat dekat. Hubungan kami layaknya hubungan antara kakak dan adik, dan memang begitu adanya.
   Lelaki itu berubah sejak menikahi gadis yang dicintainya. Dulu emosinya meledak-ledak, sekarang hanya terdiam menahan amarah.
   Lelaki itu yang dulu selalu dimanja oleh ibunya, berubah menjadi sosok yang tidak butuh bantuan orang lain. Tidak butuh dijamu, padahal ingin selalu.
   Lelaki itu yang dulunya bangun lambat, sekarang bangun lebih dulu bangun dari istrinya. Menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya, memperhatikan keperluan mereka sebelum berangkat ke sekolah.
   Lelaki itu sadar, keluarganya jauh dari kata idaman. Terkadang ia harus bekerja tanpa ada satupun makanan yang masuk ke perutnya.
    Dia juga sadar, istrinya yang terkadang berlebihan dalam berbelanja. Tentang sifat suka menghambur-hamburkan uang yang sudah didapatnya dengan susah payah.
   Lelaki hanya menahan semuanya dalam hati. Hanya raut mukanya yang suram, yang menandakan ketidaksenangan dalam hatinya.
   Kemudian, ketika istrinya berpaling ke lelaki lainnya, yang lebih muda dan gagah, lelaki itu kembali diam..
   Lambat-lambat aku bertanya, "Apa yang membuatmu bertahan?"
   Jawabnya, anak-anak. Yah, anak-anak yang membuat dia bertahan dan menjalani pernikahan semu itu.
   Terkadang, pernikahan indah pada awalnya. Tapi saat beranjak menjalaninya, pernikahan itu ibarat buah simalakama.Sebagian orang terpaksa menjalaninya dan memutuskan menikah ketika anak-anak mereka beranjak dewasa. Tapi tak jarang juga memutuskan bercerai.
   Lelaki dengan kesabaran seluas samudra itu tidak ingin anak-anaknya terluka akibat keegoisannya. Biarlah dia menjadi lilin, katanya.
   "Cinta memang indah, tapi pernikahan itu rumit," cetusnya pelan.

Minggu, 23 Februari 2014

Semangat kembali

   Saya kira benar adanya, jika rutinitas itu membunuh. Membunuh kreaktivitas, membunuh semangat hidup dan membunuh alam pikiran.
   Saya harus katakan, perlu ada semacam penyegaran. Tapi anda boleh bertanya, dengan kehidupan yang monoton, jalan raya yang semerawut, dan biaya hidup yang tinggi, bagaimana hal itu mungkin terjadi.
    Jawabnya...aaahhh, sudah lah, lupakan saja. Bagi saya arti kata semangat asal tulis saja

Kamis, 26 September 2013

Gerimis Meruncing Kamis Pagi

Gerimis meruncing kamis pagi ini. Menyayat hati yang lama terselabung kabut kebekuan hati. Akankah kau tahu? Aku pikir kau tidak akan pernah tahu. Lagipula selama ini kau tak acuh.

Kau tahu? Pagi ini malaikat kematian menyembul di jendela kamarku. Aku kembali bertanya, kapan waktuku.
"Belum waktunya," katanya menyeringai memperlihatkan taringnya yang runcing.
Lagi-lagi aku mengeluh. Percuma saja, aku hidup. Kehidupan ini lebih buruk dari kematian sekalipun. Tak seorang pun yang menginginkkannya, desisku.

Lagi, lagi, malaikat itu tak peduli, dan terbang sekenanya...


Gerimis meruncing dan memerah pagi ini
Sedangkan aku masih meratap di kolam kesedihan

Akhh...kamu tidak akan tahu

Rabu, 07 Agustus 2013

Rindu Menulis



Aku rindu kembali menulis...
Menarikan jari-jemari diatas tuts keyboard netbook suamiku, dan menuangkan isi pikiranku. Rasanya sudah lama, aku tidak menulis. Sebulan, dua bulan. Akh tidak, bahkan berbulan-bulan.

Aku sudah lupa bagaimana rasanya menulis. Otakku mungkin sedikit kacau dibuatnya. Apa yang ada di kepala tidak bisa aku tuangkan.

Memang, sejak hamil, melahirkan hingga punya anak, waktuku semakin sempit saja. Aku rasa 24 jam tidak cukup. Bangun pagi, bermain dengan anak, memandikan anak, mengasuh anak, kerja, memerah susu, mengurusi suami,,, Ahhh,,,, bahkan aku kehilangan waktu untuk diriku sendiri.

Ahhh, aku rindu menulis...

Jumat, 29 Juni 2012

Memoar Seorang Diplomat Senior Indonesia


Apa jadinya seorang aktivis, yang terbiasa mengkritisi kebijakan pemerintah, menjadi seorang diplomat yang notabene harus membawa nama negara di panggung internasional?

Pergolakan batin tersebut diungkapkan oleh diplomat senior Indonesia, Nazaruddin E Nasution, dalam memoarnya "Dari Aktivis Menjadi Diplomat" yang diluncurkan pertengahan Mei lalu.

"Baik buruk Indonesia, adalah negara saya," ungkap lelaki yang akrab disapa dengan panggilan Bung Nazar itu.

Dalam memoar setebal 371 halaman itu, Nazar (70) menceritakan kisah hidupnya dalam empat bagian yakni kisah masa kecilnya, kehidupan sebagai aktivis, kiprahnya sebagai diplomat dan purnatugas.

Sebagai aktivis, kiprah putra Muhammad Yunan Nasution, tak perlu diragukan lagi. Kiprahnya itu diawali dari organisasi di lingkungan rumah yakni Persatuan Pemuda Kotabaru Grogol, organisasi di sekolah, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan sederet organisasi lainnya. Di HMI, dia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal dan Ketua I PB HMI.

Ada cerita menarik yang diungkap oleh Nazar yakni ketika Kongres X HMI yang berlangsung di Palembang. Waktu itu banyak pihak yang mendorongnya untuk menjadi kandidat ketua umum, mulai dari Nurcholis Madjid, Mar`ie Muhammad, Eki Syachruddin, Jusuf Kalla, Zakaria Siregar dan lainnya.

Namun, semua permintaan seniornya tersebut ditampiknya dengan halus. Alasannya sederhana yakni ketika itu sudah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan ingin berprofesi menjadi seorang pengacara.

Kisah Laskar yang Tak Pernah Mati


Jika ditanya, laskar apa yang tak pernah mati? Jawabannya adalah Laskar Pelangi, sebuah novel yang kisah perjuangan 10 anak miskin Belitong dalam menggapai pendidikan.

Suka atau tidak, sejak kemunculan pertamanya pada 2005, nama Laskar Pelangi seakan tak pernah surut dari pemberitaan.

Laskar yang satu ini, seakan tak pernah kehilangan tuahnya. Dia sekaan memiliki kekuatan yang bisa mengubah suatu daerah. Kunjungan wisatawan ke Belitong meningkat hingga 800 persen sejak novel tersebut terbit.

Nama Laskar Pelangi pun seakan menjadi "jualan" yang pastinya akan laris manis.

Di Belitong kita akan menemukan tujuan wisata yakni Galeri Laskar Pelangi, sekolah Laskar Pelangi, Festival Laskar Pelangi, pelabuhan Laskar Pelangi, jalan yang bernama Laskar Pelangi bahkan "seabrek" warung yang menambahkan embel-embel itu. Bahkan Belitung Timur dijuluki sebagai negeri Laskar Pelangi.

Impian Kecil Nek Rafiah


Adzan Maghrib mulai berkumandang, saat Rafiah (74) bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan tertatih hendak menutup warung miliknya.

Dengan sekuat tenaga, dia melepaskan pengait penutup warung yang terbuat dari kayu itu, dan menahannya agar tidak membentur keras. Baru kemudian menguncinya dari dalam warung.

Semua dilakukannya seorang diri. Pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu lima menit itu, terasa lebih lama.

Langkah perempuan yang akrab disapa Nek Rafiah oleh warga sekitar, tak sekencang 10 tahun yang lalu. Badannya pun tak setegap dulu, separuh badannya bungkuk. Tak heran apa yang dikerjakan lebih lamban.

Sejak 10 tahun yang lalu, Nek Rafiah hidup seorang diri di warung kecil miliknya di Jalan Pintu Air IV Pasar Baru. Jangan bayangkan, warung miliknya itu besar dan barang-barang yang dijualnya lengkap.

Warung kayu itu hanya berukuran 1x1,5 meter, separuhnya terbuat dari kayu dan separuhnya lagi dari kardus yang disusun. Barang-barang yang dijualnya tak sepenuhnya lengkap, hanya ada beberapa mie instan, beberapa batang rokok dan tiga bungkus susu coklat yang tergantung di sudut warung.