Guru SM3T Pantang Menyerah Jadi Pelita
![]() |
| guru sm3t berjuang di daerah 3T sumber : kemdikbud |
Menjadi guru di daerah yang jauh dari pusat peradaban, bukan hal yang mudah bagi Rafika (25), jebolan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Makassar.
Pagi-pagi sekali, usai menunaikan shalat Subuh dia beranjak menuju rumah-rumah penduduk. Tujuannya jelas ingin membangunkan anak-anak yang masih terlelap untuk pergi belajar ke sekolah.
Rafika terpaksa melakukan itu, agar anak-anak di desa itu mau berangkat ke sekolah. Para orang tua juga lebih memilih mengajak anak mencari sagu dibanding disuruh ke sekolah.
"Hal pertama yang dilakukan adalah menarik minat mereka (anak-anak Papua) untuk bersekolah," kenang Rafika saat bertemu langsung dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di SD-SMP Satap Ninjemor Distrik Moi Segon, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Kamis (8/5).
Rafika merupakan salah satu guru yang tergabung dalam Sarjana Mendidik daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T) di Kabupaten Sorong.
Sudah delapan bulan, dia dan 34 temannya mengajar di wilayah kabupaten tersebut. Rafika mengajar di SD Maralogi.
"Diperlukan waktu lima jam untuk mencapai lokasi mengajar. Tiga jam naik mobil dan dua jam naik perahu kecil."
Kehidupan yang dialaminya sungguh berbeda dibandingkan ketika dirinya berada di Makassar, Sulsel. Dia ditempatkan sebagai guru di dua kelas, yang kalau dijumlahkan ada sembilan murid.
"Saya bertanya siapa Presiden Indonesia, tidak ada yang bisa jawab. Kemudian saya kasih tahu kalau Presiden Indonesia itu Susilo Bambang Yudhoyono. Lalu, saya tanya lagi siapa Presiden Papua, mereka menjawab Susilo Bambang Yudhoyono. Mereka menganggap Indonesia itu Papua dan Papua itu Indonesia," terang dia.
Akhirnya, Rafika membentangkan peta Indonesia dan menjelaskan bahwa ada pulau-pulau lain. Rafika menerangkan pada anak didiknya, kalau dia berasal dari Makassar yang berada di Pulau Sulawesi.
"Mereka baru tahu, kalau ada tempat lain yang bisa dikunjungi. Jadi saya katakan, kalau kalian mau seperti ibu bisa ke Jawa, ke Papua, harus sekolah. Sejak itu, mereka mulai semangat sekolah," beber perempuan berjilbab itu.
Suwandi (25), guru SM3T lainnya, mengajar mata pelajaran Fisika di SMAN 1 Segun. Suwandi lulusan Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar.
"Lokasi tempat saya mengajar tujuh jam perjalanan dari Ibu Kota Sorong, Aimas. Tiga setengah jam perjalanan darat, dan tiga setengah jam lagi dengan kapal. Kapal itu satu-satunya alat transportasi menuju daerah itu," jelas Suwandi.
Tak jarang, Suwandi ikut mendorong mobil yang terjebak di lumpur. Bahkan dalam perjalanan di sungai, Suwandi kerap menemui buaya.
Menjadi guru di daerah pedalaman, bukan hal mudah bagi Suwandi. Keterbatasan media pengajaran, tak membuatnya patah arang.


